Siapakah Pemilik Sapi Betina Dalam Surat Al Baqarah?
PEMILIK "SAPI BETINA" DALAM SURAT
AL-BAQOROH
AL-BAQOROH
Teman-teman tentu tak asing dengan
cerita tentang kaumnya Nabi Musa saat terjadi pembunuhan dan tak diketahui
siapa pembunuhnya, lantas Alloh memerintahakan untuk mencari sapi yang istimewa
untuk menghidupkan korban pembunuhan. Cerita tersebut terangkum dalam Al Qur`an
Surat Baqoroh (66-73) berikut cuplikan cerita tersebut:
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menyembelih seekor sapi betina (lalu pukulkanlah bagian dari sapi itu ke tubuh jenazah yang tidak diketahui pembunuhnya itu sehingga ia bangun dari kematiannya dan memberitahukan siapa pembunuhnya yang sebenarnya)”.
Mereka berkata, “Apakah engkau memperolokkan kami?”
Ia menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak
termasuk golongan orang-orang yang bodoh”
“Mereka berkata, “Mohonlah kepada Tuhanmu agar Ia menerangkan
kepada kami sapi betina apakah itu!”
Musa menjawab, “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa ia
adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak
muda; pertengahan di antara itu. Maka kerjakanlah apa yang telah diperintahkan
kepada kalian”
Mereka berkata,
“Mohonlah kepada Tuhanmu agar Ia menerangkan kepada kami apa warnanya”.
Musa menjawab,
“Sesungguhnya Allah berfirman bahwa (warna) sapi betina itu adalah kuning tua (yang merata) nan menyenangkan orang-orang
yang memandangnya”
Mereka berkata, “Mohonlah kepada Tuhanmu agar Ia
menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya
sapi itu (masih) samar bagi kami dan jika Allah menghendaki (dengan keterangan
yang telah kau berikan) kami akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)”.
Musa berkata, “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa ia
adalah sapi betina yang belum pernah digunakan untuk membajak tanah dan tidak
pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat (dan) tidak ada belangnya”.
Mereka berkata, “Sekarang barulah engkau menerangkan
hakikat sapi betina yang sebenarnya”
Setelah mendengar ciri-ciri sapi tersebut, Bani Israel
mencari sapi yang memiliki ciri-ciri ini, usaha apapun yang mereka lakukan
tetap tidak membuahkan hasil hingga pada akhirnya mereka mendapatkannya di
rumah seorang pemuda.
Catatan dibawah
ini akan lebih fokus menjelaskan siapa sebenarnya pemilik SAPI ISTIMEWA tersebut ??
Imam Al-Baghawi menceritakan didalam kitab Tafsirnya, di kalangan Bani Israil
ada seorang lelaki yang
saleh, Ia punya seroang anak kecil dan seekor anak lembu. Menjelang hari
kematiannya, lelaki itu melepaskan anak lembu
tersebut di suatu hutan seraya berdoa. “Wahai Tuhanku, aku menitipkan anak lembu ini untuk anakku sampai ia besar”.
Doa lelaki ini dikabulkan oleh Allah SWT. Setelah ia
meninggal dunia, anak lembu itu tidak pernah keluar hutan dan selalu
menyembunyikan diri agar tidak terlihat orang lain.
Setelah anak itu dewasa, ia membaktikan diri pada
ibunya. Ia berkerja mencari kayu bayar untuk kemudian dijual di pasar. Hasil jerih-payahnya itu dibagi
tiga, satu bagian untuk sedekah, satu bagian untuk makan, dan yang terakhir untuk ibunya. Ia pun
membagi waktu malamnya menjadi tiga, sepertiga malan untuk beribadah, sepertiga lagi untuk
tidur, dan sepertiga lagi untuk menunggui ibunya.
Suatu hari ibunya mengatakan, “Sesungguhnya ayahmu
meninggalkan anak lembu untukmu yang dilepaskan di suatu hutan. Carilah lembu
itu sambil berdoa kepada Tuhannya Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishaq, dan
Nabi Ya’qub supaya Dia mengembalikan anak lembu itu kepadamu.
Pergilah anak
muda itu ke hutan, dan menemukan lembu yang dimaksud. Lalu ia berkata, “Demi Tuhan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishaq, dan Nabi Ya’qub,
tenanglah engkau di situ”.
Lembu itu menghampiri anak muda tersebut dan berkata, “Hai anak muda yang bakti
pada ibunya,” tegur lembu tersebut. “Naikilah aku
supaya ringan bagimu”.
Anak berkata,
“Sesungguhnya ibuku tidak
memerintahkan aku menaikimu, tetapi membawamu pulang”.
“Demi tuhannya Bani Israil,” sumpah lembu tersebut, “Jika
engkau menaikiku (berarti tidak mematuhi perintah ibunya), sesungguhnya engkau
tidak akan dapat menguasaiku selamanya. Maka berjalanlah engkau, karena
sesungguhnya andaikan engkau memerintahkan sebuah gunung berjalan sendiri untuk
engkau naiki, niscaya gunung itu akan menurut semata-mata baktimu kepada ibumu.
Sesampai di rumah, ibunya berkata, “Anakku engkau adalah
orang fakir. Tidak punya harta, berpaya-payah mencari kayu bakar. Untuk itu
juallah lembu ini”. Ibunya menyuruh anak itu menjual lembu itu ke pasar dengan harga tiga dinar.
Maka
pergilah anak itu ke pasar. Lalu Allah mengutus seorang malaikat untuk
memperlihatkan kekuasan-Nya dan memberitahukan bakti anak muda itu terhadap
ibunya kepada makhluknya.
“Berapa
dinar engkau jual lembu ini”, tanya malaikat itu. “Tiga dinar, dan aku
mengadakan perjanjian kepadamu dengan keridhaan ibuku, “Jawab anak
muda itu.
muda itu.
“Ambillah
enam dinar ini, dan usahlah engkau meminta persetujuan ibumu”, bujuk malaikat
itu.
“Bahkan andai engkau memberiku emas seberat
lembu ini, takkan kuterima kecuali dengan keridhaan/Ijin ibuku”.
Anak muda itu pulang kerumah, dan
menyampaikan bahwa lembu mereka ditawar enam dinar.
“Kembalilah engkau ke pasar, dan juallah
lembu itu dengan enam dinar atas keridhaanku,” perintah ibunya.
Anak muda itu pun kembali ke pasar.
“Sudahkah engkau minta persetujuan ibumu?” Tanya malaikat yang tadi.
“Ibuku memerintahkan aku agar menjual lembu ini tidak kuran dari enam dinar”, kata si pemuda.
“Aku akan memberimu 12 dinar, tak usahlah
kamu meminta persetujuan ibumu,” bujuk malaikat itu lagi.
Pemuda itu kembali lagi kepada ibunya dan
memberitahukan mengenai tawaran ini.
Sang ibu berkata,
“Sesungguhnya orang yang datang kepadamu itu adalah malaikat. Ia menjelma dalam bentuk manusia untuk mengujimu. Untuk itu jika ia kembali kepadamu, tanyakanlah: apakah engkau mengizinkan aku menjual lembu ini atau tidak?”
Pemuda itu melaksanakan segala perintah ibunya.
“Sesungguhnya orang yang datang kepadamu itu adalah malaikat. Ia menjelma dalam bentuk manusia untuk mengujimu. Untuk itu jika ia kembali kepadamu, tanyakanlah: apakah engkau mengizinkan aku menjual lembu ini atau tidak?”
Pemuda itu melaksanakan segala perintah ibunya.
Akhirnya malaikat tersebut mengatakan,
“Pulanglah engkau dan katakanlah pada ibumu agar merawat lembu ini baik-baik. Kelak Musa bin ‘Imran akan membeli lembu darimu, karena ada seseorang yang amti terbunuh dari kaum Bani Israil. Untuk itu jangan engkau jual, kecuali dengan uang dinar seberat lembumu itu”.
“Pulanglah engkau dan katakanlah pada ibumu agar merawat lembu ini baik-baik. Kelak Musa bin ‘Imran akan membeli lembu darimu, karena ada seseorang yang amti terbunuh dari kaum Bani Israil. Untuk itu jangan engkau jual, kecuali dengan uang dinar seberat lembumu itu”.
Pemuda itu pulang dan merawat lembunya
baik-baik. Tak lama kemudian Allah SWT mentakdirkan Bani Israil supaya menyembelih seekor lembu. Lalu
mereka berkali-kali
meminta supaya Nabi
Musa a.s. menerangkan sifat-sifat lembu yang akan disembelihnya. Sehingga akhirnya lembu
anak muda itulah yang memenuhi syarat. Dan itu semua terjadi semata-mata karena amal
bakti anak muda itu kepada ibunya.
Lembu yagn dimaksudkan sebagai perantara
untuk mencari siapa pelaku pembunuhan di kalangan kaum Bani Israil. Kisah ini diterangkan dalam Al Quran
surah Al-Baqarah ayat 67-73).
القصة من الإسرائيليات، كما يظهر، ولا يقبل في تفسير كتاب االله إلا ما جاء برواية ثابتة. وقال ابن كثير رحمه االله بعد أن قص )(1
قصة البقرة: وهذه السياقات عن عبيدة وأبي العالية والسدي وغيرهم فيها اختلاف والظاهر أا مأخوذة من كتب بني إسرائيل، وهي مما
:يجوز نقلها، ولكن لا تصدق ولا تكذب. فلهذا لا يعتمد عليها إلا ما وافق الحق عندنا، واالله أعلم". تفسير ابن كثير 197197 / 1وانظر
.الإسرائيليات في التفسير والحديث للدكتور محمد حسين الذهبي
(Tafsir Baghowy Juz 1 Hal 108-)


0 komentar: