Naskah Pidato Bahasa Inggris Acara Perpisahan Dengan Terjemah



Speech Farewell Party For Chief

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
بسم الله الحمن الرحيم، الحمد لله رب العالمين، وبه نستعين على أمور الدنيا واالدين، أشهد ان لاإله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد ان محمدا عبده ورسوله، والصلاة والسلام على أشرف اللأنبياء والمرسلين، سيدنا ومولانا محمد وعلى آله 
وأصحابه أجمعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Excellency Mr. H.Moh Mujib Mpd.i, the principals of MTs Kanjeng Sepuh;
Honorable all the teachers of MTs Kanjeng Sepuh;
Dear all coordinators of each division farewell party program;
Dear sister Mia, the Chief of Farewell Party Program;
And don’t forget also, respectable Mr. Ican,  Miss. Fitri, Mr. Syaif, and Miss Lika, the tutors supervisor of BEC Pare Kediri;
And all of my friends whom I love.

Ladies and Gentlemen,
First of all, let's pray and thank unto our God, Allah SWT, who has been giving us mercies and blessing so we can attend and gather in this nice meeting without any trouble and obstacle.
Secondly, shalawat and salam always be given to our prophet, Muhammad SAW, who has guided us from the darkness to the brightness namely Islam Religion.
Thirdly, I don't forget to say thank you for the MC who has given me chance to speak in front of you all.

Ladies and Gentlemen, dear brothers and sisters,
Standing in front of you all, let me to represent my friends from Exclavenics to convey the impression of an impression to the audience here.
Time keeps running, clockwise keeps rotating, until it is time now that we will part with our dear tutors supervisor. If we can reverse journey  back in time, I think we still want to get together with the our tutors to be trained, nurtured, guided and directed, but all was not possible.
Ladies and Gentlemen, dear brothers and sisters,
If we look at the time of interaction between us with the our tutors supervisor, is not so long, but the benefits we derive not small, Science we can also quite a lot, the impression which we feel is also quite positive. We feel that the science of language we mainly English language increased, the experience also increased. This is all purely thanks to the perseverance, tenacity, patience and sincerity of our tutors supervisor.

Ladies and Gentlemen, dear brothers and sisters,
How great sacrifices tutors supervisor gave to us, how much time, effort, and thought perhaps even material that was issued to us. Even the tutors come from places that are not close to us, but all willing to come here to practice their knowledge, pass on his experience to us. Everything was done with full sincerity. It was difficult for us to reply to all the good that, just a thank you from the bottom of my heart and prayers that we always pray toward  the presence Illahi Robbi , may Allah always reply to all the good services and all the sacrifices of tutors supervisor with bountifully rewarded, and may Allah accompanies the success of all tutors supervisor, amen...
Ladies and Gentlemen, dear brothers and sisters,
We also asked for prayers so that Allah swt give our convenience in search of knowledge and provide the benefit of our knowledge as well as some convenience to achieve our success, amen…
That's all of my speech, I hope it is useful for us and I apologist if found many mistake from my speech. Thanks for your nice attention and the last I say…
والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته
I give time back to the MC.




Ladies and Gentlemen, dear brothers and sisters,
Berdiri didepan kalian semua,  ijinkanlah saya mewakili teman teman dari Exclavenics untuk menyampaikan kesan kesan kepada hadirin sekalian,

Ladies and Gentlemen, dear brothers and sisters,
Waktu terus berjalan, jarum jam terus berputar, hingga tibalah saatnya sekarang kita akan berpisah dengan para tutor pembimbing yang kami sayangi,
Kalau sekiranya kita bisa membalik kembali perjalanan waktu, rasanya kita masih ingin berkumpul dengan para tutor pembimbing untuk dididik, dibina, dibimbing dan diarahkan, namun semuanya itu tidak mungkin .

Ladies and Gentlemen, dear brothers and sisters,
jikalau kita melihat waktu interaksi antara kita  dengan  tutor pembimbing kita, memang tidak begitu lama, akan tetapi manfaat yang kita peroleh tidaklah sedikit, Ilmu yang kita dapat juga lumayan banyak, kesan yang kita rasakan juga cukup positif. Kita merasa bahwa ilmu kebahasaan kita terutama bahasa inggris meningkat, pengalaman juga bertambah. Ini semua semata mata berkat ketekunan, keuletan, kesabaran dan keikhlasan para kakak  tutor pembimbing kita.

Ladies and Gentlemen, dear brothers and sisters,
Betapa besar pengorbanan yang  tutor pembimbing  berikan kepada kita, berapa banyak waktu tenaga dan pikiran bahkan mungkin juga materi yang dikeluarkan untuk kita. Bahkan para tutor pembimbing datang dari tempat tempat yang tidak dekat dengan kami namun semua rela datang kemari untuk memperaktekan ilmunya, menularkan pengalamannya kepada kami. Semuanya itu dilakukan dengan penuh keikhlasan. Rasanya sulit bagi kami untuk membalas semua kebaikan itu, hanyalah ucapan terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam serta doa yang selalu kami panjatkan kehadirat ilahi robbi, semoga allah senantiasa membalas semua jasa baik dan segala pengorbanan para kakak dengan balasan yang berlipat ganda, dan semoga allah swt menyertai kesuksesan kakak semua... amin.
Ladies and Gentlemen, dear brothers and sisters,
Kami juga mohon doa agar allah swt memberikan kemudahan kami dalam mencari ilmu dan memberikan kemanfaatan ilmu kami serta beberapa kemudahan untuk mencapai kesuksesan kami... amin.



1 komentar:

Ulama Nusantara: Syekh Nawawi Al Bantani



Syekh Muhammad bin Umar Nawawi Al-Bantani Al-Jawi, adalah ulama Indonesia bertaraf internasional, ia lahir di Kampung Pesisir, Desa Tanara, Kecamatan Tanara, Serang, Banten, 1815. Bernasab pada keturunan Maulana Hasanuddin Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon. Keturunan ke-12 dari Sultan Banten. Nasabnya melalui jalur ini sampai kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Syekh Nawawi Al Bantani wafat tahun 1897, dan dimakamkan di Ma’la Makkah.

 Pada usia 15 tahun dia menunaikan ibadah haji dan berguru kepada sejumlah ulama terkenal di Makkah, seperti Syaikh Khâtib al-Sambasi, Abdul Ghoni Bima, Yusuf Sumbulaweni, Abdul Hamid Daghestani, Syaikh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syaikh Ahmad Dimyati, Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Muhammad Khatib Hambali, dan Syaikh Junaid Al-Betawi. Tapi guru yang paling berpengaruh adalah Syaikh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syaikh Junaid Al-Betawi, dan Syaikh Ahmad Dimyati, ulama terkemuka di Makkah. Lewat ketiga Syaikh inilah karakter beliau terbentuk. Selain itu juga ada dua ulama lain yang berperan besar mengubah alam pikirnya, yaitu Syaikh Muhammad Khatib dan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, ulama besar di Madinah.

 Berkat kepakarannya, dia mendapat bermacam-macam gelar. Diantaranya yang diberikan oleh Snouck Hourgronje, yang menggelarinya sebagai Doktor Ketuhanan. Kalangan intelektual masa itu juga menggelarinya sebagai al-Imam wa al-Fahm al-Mudaqqiq (tokoh dan pakar dengan pemahaman yang sangat mendalam). Syaikh Nawawi bahkan juga mendapat gelar yang luar biasa sebagai al-Sayyid al-Ulama al-Hijâz (tokoh ulama Hijaz). Daerah Hijaz sebelum dikuasai keluarga Saud tahun 1925 (kini Saudi Arabia). Sementara para Ulama Indonesia menggelarinya sebagai Bapak Kitab Kuning Indonesia.

 Kitab-kitab karangan beliau banyak yang diterbitakan di Mesir, seringkali beliau hanya mengirimkan manuscriptnya dan setelah itu tidak mempedulikan lagi bagaimana penerbit menyebarluaskan hasil karyanya, termasuk hak cipta dan royalitinya. Selanjutnya kitab-kitab beliau itu menjadi bagian dari kurikulum pendidikan agama diseluruh pesantren di Indonesia, bahkan Malaysia, Filipina, Thailand, dan juga negara-negara di Timur Tengah. Begitu produktifnya beliau dalam menyusun kitab (semuanya dalam bahasa Arab) hingga orang menjuluinya sebagai Imam Nawawi kedua. Imam Nawawi pertama adalah yang membuat Syarah Shahih Muslim, Majmu’ Syarhul Muhadzab, Riyadlush Shalihin.

 Banyak murid-muridnya yang di belakang hari menjadi ulama, misalnya KH Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdhatul Ulama), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), KH Khalil Bangkalan, KH Asnawi Kudus, Syekh Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri Purwakarta, KH Arsyad Thawil, dan lain-lainnya.

 Konon, KH Hasyim Asy’ari saat mengajar santri-santrinya di Pesantren Tebu Ireng sering menangis jika membaca kitab fiqih Fath al-Qarib yang dikarang oleh Syaikh Nawawi. Kenangan terhadap gurunya itu amat mendalam di hati KH Hasyim Asy’ari hingga haru tak kuasa ditahannya setiap kali baris Fath al-Qarib ia ajarkan pada santri-santrinya.

 Jumlah kitab beliau yang terkenal dan banyak dipelajari ada sekitar 22 kitab. Beliau pernah membuat tafsir Al-Qur’an berjudul Mirah Labid yang berhasil membahas dengan rinci setiap ayat suci Al-Qur’an. Buku beliau tentang etika berumah tangga, berjudul Uqudul Lijain (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia) telah menjadi bacaan wajib para mempelai yang akan segera menikah. Kitab Nihayatuz Zain sangat tuntas membahas berbagai masalah fiqih (syariat islam). Sebuah kitab kecil tentang syariat islam yang berjudul Sullam (Habib Abdullah Bin Husein bin Tahir Ba’alawi), diberinya Syarah (penjelasan rinci) dengan judul baru Mirqatus Su’udit Tashdiq. Salah satu karya beliau dalam hal kitab hadits adalah Tanqihul Qoul, syarah kitab Lubabul Hadits (Imam Suyuti). Kitab hadits lain yang sangat terkenal adalah Nashaihul ibad.

0 komentar:

Membunuh Cicak, Dilarang atau Dianjurkan?


     Hukum Membunuh Cicak

     Banyak oranga mengatakan bahwa membunuh cicak adalah sunnah. Banyak juga yang mengatakan bahwa membunuh cicak adalah haram selama cicak tersebut tidak mengganggu kita. Tentunya kita akan terbayang kalau membunuh cicak adalah dosa karena Nabi SAW sendiri menganjurkan kita untuk berperilaku baik terhadap semua binatang. Lantas bagaimana hukum yang sebenarnya?

Hukum membunuh cicak adalah dianjurkan, bahkan ada pula yang mengatakannya wajib.
Kenapa membunuh cicak itu di anjurkan?
Dikatakan: karena cicak adalah hewan yang ikut meniup api kepada Nabi Ibrahim ketika di bakar oleh raja namrud.

Terkait dengan cerita Nabi ibrahim AS. yang dibakar Namrudz kemudian datang binatang wazagh yang ikut menghembus kearah Api yang membakar Nabi Ibrahim AS. Oleh karenaa itu,binatang ini menjadi Tuli.

Atas kisah inilah Nabi SAW menganjurkan untuk membunuhnya. "Kana Yanfukhu 'Ala Ibrohima"
Adalah binatang wazagh Meniupkan Api yang membakar atas Nabi Ibrahim AS.
[Hr.Bukhari.3359.Muslim.
2 237.]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَتَلَ وَزَغَةً فِي أَوَّلِ ضَرْبَةٍ فَلَهُ كَذَا وَكَذَا حَسَنَةً وَمَنْ قَتَلَهَا فِي الضَّرْبَةِ الثَّانِيَةِ فَلَهُ كَذَا وَكَذَا
حَسَنَةً لِدُونِ الْأُولَى وَإِنْ قَتَلَهَا فِي الضَّرْبَةِ الثَّالِثَةِ فَلَهُ كَذَا وَكَذَا حَسَنَةً لِدُونِ الثَّانِيَةِ
Bab anjuran membunuh Cicak, Shohih Imam Muslim.

"Barangsiapa membunuh
waza'(cicak) dengan sekali pukulan, Allah akan mencatatnya 100 kebaikan. Dan dengan dua kali pukulan, kurang dari itu (yaitu 50 kebaikan). Dan dengan tiga kali pukulan, kurang dari itu(yaitu 25 )kebaikan. [H.R.Muslim].

Lantas bagaimana apabila kita memberi makan cicak?

Syekh Ad-Dawudi, beliaumenyatakan bahwa anjuran untuk berbelas kasihan kepada hewan itu berlaku untuk semua binatang,pendapat serupa juga dikemukakan oleh Syekh Al-Muhlib, menurut beliau anjuran tersebut berlaku untuk semua hewan, baik yang tidak diperintahkan untuk dibunuh atau tidak.
Syekh Abul Abbas Al-Anshori menerangkan bahwa perintah untuk membunuh hewan-hewan tertentu tidak bisa menafikan anjuran untuk berbuat baik pada hewan tersebut.
Secara lebih detail Syekh Ibnu At-Tin menjelaskan, meskipun kita diperintahkan untuk membunuh hewan-hewan yang berbahaya, itu tidak berarti kita boleh membiarkannya kelaparan atau kehausan, bisa saja kita memberi makanan dan minuman kepada hewan tersebut, lalu setelah itu kita bunuh, sebab secara umum anjuran untuk berlaku baik pada hewan yang akan disembelih itu juga berlaku untuk hewan yang akan kita bunuh, dan agama melarang kita untuk menyiksa hewan (dengan cara membiarkannya kelaparan atau kehausan).
Kesimpulannya : Memberi makan kepada hewan peliharaan maupun hewan liar mendapatkan pahala, sedangkan memberi makan atau minum hewan yang mebahayakan, terdapat perbedaan pendapat di antara ulama' sebagian menyatakan melarangnya dan sebagian yang lain tetap menganjurkannya.
Wallohu a'lam.
Ibaroh dari kitab Fathul Bari, Juz : 5 Hal : 42

0 komentar:

Keutamaan Ayat Kursi Dalam Berbagai Riwayat



1. Keutamaan dari Ayat Kursi yang teramat mulia ini adalah sebagaimana diriwayatkan
    dalam kitab Addurrul Mantsur, Rasulullah SAW bersabda:
    “Sesungguhnya ia (Ayat Kursi) adalah ayat yang sangat agung yang terdapat dalam
     Al-qur’an”
.     Terdapat sebuah riwayat yang mengatakan: “Bacalah Ayat Kursi karena dapat
     menjaga dirimu, anak-anakmu dan tempat tinggalmu serta rumah yang ada disekitar
     tempat tinggalmu. Apabila dibaca pada pagi hari dan petang hari maka akan aman dari
     gangguan jin. Apabila engkau membacanya ketika engkau hendak tidur maka Allah
     akan menjagamu sehingga setan tidak akan mampu mendekatimu hingga pagi hari”
.

2. Dalam riwayat lainnya dikatakan bahwa membaca Ayat Kursi adalah setara dengan
     membaca seperempat al-Qur’an.
     Dalam kitab Taisiril Ushul Ila Jami’ Ushul Min Hadits Rasul SAW karya dari
     seorang ulama besar Asy-Syaikh Abdurrahman Ad-Diba’iy Asy-Syaibani Asy-Syafi’I
ان االله يقدس روحه في الجنة وينور ضريحه     diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :
.إن لكل شيء سناما، وإن سنام القران سورة البقرة، وفيها اية سيدة اي القران اية الكرسى     “Sesungguhnya segala sesuatu pasti memiliki punuk dan punuknya al-Qur’an adalah
     surat Al Baqarah dan di dalamnya terdapat penghulu dari ayat-ayat al-Qur’an yaitu,
     Ayat Kursi.” (HR.
At Turmudzi)

3. Diriwayatkan dalam tafsir sirajul munir karangan Imam Asy-Syarbini mengatakan
     sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibn Hibban dan an-Nasa’i bahwa Rasulullah
     SAW bersabda :
من قرأ اية الكرسى دبر كل صلاة مكتوبة، لم يعنمه من دخول الجنة إلا الموت     “Barangsiapa membaca Ayat Kursi setiap selesai shalat fardhu, maka tidak ada yang
     dapat mencegahnya untuk masuk ke dalam surga kecuali kematian.”
     Yang dimaksud kecuali kematian pada hadits tersebut diatas adalah apabila telah
     datang ajalnya maka dia pasti akan dimasukkan ke dalam surga.

4. Al-Baihaqy dalam kitabnya Syi’bil Iman meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW     bersabda: “Tidaklah seseorang itu selalu membacanya (Ayat Kursi) itu, kecuali dia
     adalah seorang shiddiq atau ‘abid (ahli ibadah).”
     Dalam riwayat lainnya dikatakan: “Barangsiapa membacanya ketika dia akan mulai
     tidur maka Allah akan memberikan keamanan baginya, bagi tetangganya, bagi
     tetangga dari tetangganya dan bagi rumah-rumah yang ada disekitarnya.”
     Diriwayatkan, jika Ayat Kursi dibaca pada sebuah rumah maka setan tidak akan
     mendatangi rumah itu selama 30 hari, dan sihir tidak akan mampu masuk ke rumah
     itu selama 40 hari. Rasulullah SAW berkata kepada Sayyidina Ali RA : “Wahai Ali,
     ajarkanlah ini kepada anakanakmu, kepada keluargamu dan kepada para tetanggamu,
     karena tidak diturunkan ayat yang lebih mulia dari ayat ini (ayat kursi)”. Pada suatu
     ketika, para sahabat sedang membicarakan mengenai keutamaan ayat-ayat dalam
     Al Qur’an, maka Sayyidina Ali RA mengatakan kepada mereka, bagaimana menurut
     kalian tentang ayat kursi? Rasulullah SAW pernah bersabda kepadaku : “Wahai Ali
     sayyidul basyar (pemimpin para manusia) adalah Nabi Adam, pemimpin seluruh
     bangasa Arab adalah Muhammad dan tidaklah aku bangga karena ucapan ini,
     pemimpin dari orang-orang Parsi adalah Salman, pemimpin dari golongan Romawi
     adalah Shuhaib, pemimpin dari kaum Habasyah adalah Bilal, pemimpin semua hari
     adalah hari jum’at, pemimpin seluruh kitab adalah Al-Qur’an, pemimpin seluruh
     surat dalam Al-Qur’an adalah Al-Baqarah, pemimpin seluruh surat dalam Al Baqarah
     adalah Ayat Kursi”.

5. Dalam kitab Nawadiril Ushul diriwayatkan bahwa Malaikat Jibril AS bertemu dengan
     Nabi Musa AS. Malaikat Jibril berkata : “Sesungguhnya Tuhanmu mengatakan bahwa
     barangsiapa membaca sekali dalam selesai shalat fardhu:
اللهم إني أقدم إليك بين يدي كل نفس ولمحة وطرفة يطرف بها اهل السماوات واهل الارض وكل شيئ هو في علمك
كائن، أقدم إليك بين ذلك كله : االلهُ لآَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَنَومُ لَّهُ مَافِي السَّمَاوَاتِ وَمَافِي اْلأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي
يَشْفَعُ عِندَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَابَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَاخَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَلاَ
.
يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيم     Sesungguhnya siang dan malam itu ada 24 jam dan pada setiap 1 jam diangkat
     sebanyak 70 juta kebaikan bagi orang yang membacanya dan para Malaikat akan
     sibuk mencatat (besarnya kebaikan) dari bacaan itu”
.

6. Dalam durratun nashihin, menukil dari kitab hayat al-quyub shochifah 240, majlis fi
     bayan albaka’ (perihal menangis), dijelaskan bahwa :
     Ketika sudah saatnya hari kiamat, seorang hamba dibangkitkan di hadapan Allah
    SWT kitab catatan amalnya disodorkan, ternyata lebih banyak keburukannya.
     Kemudian dia berkata :

الهى ما فعلت هذه السيئات؟
(Ya Tuhanku, aku tidak lakukan keburukan semua ini)

Maka Allah SWT berfirman :
ان لي شهودا ثقات
(Sungguh pada-Ku ada saksi2 yang kuat)

Lalu, ia (‘abd) pun menoleh ke kanan dan ke kiri, tiada menemukan seorang saksipun, kemudian
dia berakata :
يا رب أين الشاهد؟
(Ya Tuhan, dimana saksi bagiku?)

Kemudian Allah SWT menyuruh anggota-anggota tubuhnya supaya menjadi saksi, merekapun bersedia.
Kedua telinganya (‘abd) berkata :
انا سمعنا وعلمنا أنه قد عمل
(Kami benar2 telah mendengar dan tahu pasti bahwa ia telah melakukannya).
Kedua matanya berkata :
انا قد نظرنا
(akupun melihatnya).
Berkata lisannya :
قد قلت
(aku juga mengucapkannya).
Kedua tangannya berkata :
انا فعلنا
(sesungguhnya kami telah melakukannya).
Farjinya pun berkata :
انا زنيت
(aku telah berbuat zina).

Maka ia (‘abd) pun gusar. Kemudian Allah SWT menyuruhnya masuk neraka. Namun pada bola mata kanannya terlihat seutas rambut mata memohon idzin kepada Allah SWT untuk berbicara. Maka Allah SWT menizinkannya. Ia pun berbicara :
يا رب الست قلت اي عبد اغرق شعرة واحدة من اجفانه بدموع عينيه من خشيتي الا انجيته من النار؟
(Ya Tuhanku, bukankah Engkau telah berfirman “Siapapun dari seorang hamba yang tenggelam
basah seutas rambut dari rambut matanya dengan air matanya karena takut pada-Ku, maka Ku
bebaskan ia dari neraka”?
Maka Allah SWT menjawabnya : (بلىYa, benar)

Rambut mata tadi pun berkata :
انا اشهد ان هذا العبد المذنب قد اغرقني بالدموع من خشيتك
(aku bersaksi, bahwa hamba yang berdo’a ini telah membasahiku dengan air matanya akibat takut
pada-Mu)

Akhirnya Allah SWT menyuruh masuk ke surga. Selanjutnya terdengar suara,
الا ان فلانا بن فلان قدنجا من النار بشعرة واحدة من اجفان عينيه
(“Ketahuilah, bahwa si fulan bin fulan terbebas dari api neraka, berkat seutas rambut dari sekian rambut mata.

0 komentar:

Mengapa dalam Al Quran Allah Sering Menggunakan Kata Ganti “Kita”?




نحن) ضمير يعبر به الاثنان أو الجمع المخيرون عن أنفسهم وقد يعبر به الواحد عند إرادة التعظيمل)


[ Kami ] Adalah kata pengganti yang menunjukkan arti dua atau jamak namun demikian dapat juga
digunakan untuk satu orang saat dikehendaki penghormatan. [ Al-Mu’jam al-Wasiith II/907 ]

Dengan demikian tidak berarti kata “kami” memiliki arti banyak karena dapat juga digunakan untuk kata pengganti bagi yang mengagungkan dirinya (mu’azhzhom nafsahu)
seperti contoh dalam firman Allah
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ {9/15}
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (QS. 15:9).

Dalam ayat ini artinya Allah mengagungkan terhadap diriNya sendiri.
Seperti contoh lain adalah kata antum’.
Kebanyakan para ustadz maupun kiai ketika berbicara dengan orang lain yang ia hormati, mereka menggunakan kata tunjuk antum(kalian semua) daripada anta(kamu).
Meskipun yang diajak berbicara hanya satu orang, mereka menggunakan kata antum sebagai penghormatan.
Layaknya kata nahnu dalam Al Quran itu menunjukkan bahwa Allah mengagungkan DzatNya.

Penggunaan kata pengganti semacam itu dalam bahasa arab (bahkan dalam bahasa kita, Indonesia) sudah sangat maklum.

0 komentar:

Penjelasan Ayat 130 QS Al An’am || Ada Rosul Dari Bangsa Jin?


Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir ( QS. Al-An'aam : 130 )

Mungkin maksud dari ayat ( Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golonganmu sendiri ) ini adalah di tujukan hanya satu golongan saja yaitu manusia karena penjelasan ayat tersebut tidak ada kata dari golongan kamu masing-masing. Wallahu a'lam.

Menurut mayoritas ulama para Rasul hanya terdiri dari bangsa manusia, sedang dari bangsa jin menurut Ibn Abbas terdapat istilahnya nudzur (jin yang memberi peringatan pada kaumnya dengan ajaran yang dia peroleh dari seorang Rosulnya bangsa manusia).

Sedikit uraiannya sebagai berikut :

“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri” (QS. 6:130)
Karena bangsa Jin juga golongan berakal dan dikhitobi (terkena hukum) maka dikatakan dalam ayat diatas dengan “minkum” dari golongan kamu sendiri, meskipun para rasul adanya dari kalangan manusia bangsa manusia ditaghlib (dimenangkan) dalam ayat diatas sebagaimana biasa ditaghlibnya isim mudzakar (laki-laki) atas isim muannats (perempuan).

Ibn Abbas berkata “Rasul dari kalangan jin adalah mereka yang menyampaikan pada kaum mereka wahyu yang mereka dengarkan dari para rasul manusia”
 Sebagaimana firman Allah
“Mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan”. (QS. 46:29)
Nabi Muhammad bersabda 
“Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan pada nabi sebelumku, adalah nabi sebelumku diutus sebatas kaumnya sedang aku diutus pada setiap yang merah dan
hitam” (HR. Muslim)

Ibn Abbas berkata “Adalah para rasul di utus pada bangsa manusia dan sesungguhnya Muhammad SAW diutus pada bangsa jin dan manusia” (dituturkan oleh Abu Laits as-samarqandy)

Dikatakan “Adalah kaum jin mendengarkan wahyu dari para nabi kemudian mereka kembali memberitahukan pada kaumnya seperti keadaan pada nabi kita alaihis salam, kemudian mereka disebut utusan Allah meskipun tidak tertetapkan dalil nash atas kerasulan mereka” [ Al-Jaami’ li Ahkaam al-Quraan VII/87 ].


“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri” (QS. 6:130) artinya dari golongan kamu sendiri, rasul-rasul (para utusan) dari bangsa manusia saja, bangsa jin tidak memiliki para utusan seperti apa yang telah ditetapkan menjadi nash oleh Imam Mujahid, Ibn Juraij dan ulama-ulama lain baik kuno maupun modern.

Ibn Abbas berkata “Rosul dari keturunan anak Adam sedangkan dari bangsa Jin terdapat NUDZUR (jin yang memberi peringatan pada kaumnya dengan ajaran yang dia peroleh dari seorang Rosulnya bangsa manusia)

Ibn Jariir menceritakan dari ad-Dhahaak Bin Muzaakhim “Bangsa Jin juga terdapat rosul” berdasarkan firman Allah “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan” (QS. 55:19-22)
Sandaran dengan dalil ini perlu pertimbangan sebab dalilnya masih ihtimal (mirip-mirip) tidak jelas sama sekali.

Sedang dalil yang menunjukkan rasul hanya dari bangsa manusia adalah firman-firman Allah Ta’aala :

1. Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami
    telah 
memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami
    telah 
memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak
    cucunya, Isa, Ayub, 
Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada
    Daud. 
Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan
    tentang mereka 
kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan
    tentang mereka kepadamu. Dan 
Allah telah berbicara kepada Musa dengan
    langsung. 
(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan
    pemberi peringatan agar 
supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah
    sesudah diutusnya rasul-rasul itu. 
Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha
    Bijaksana (QS. 4:163-165).

2. Dan Kami anugrahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Yaqub, dan Kami jadikan kenabian
    dan Al Kitab pada keturunannya, (QS. 29:27).
    Dalam ayat ini Allah membatasi bahwa kenabian dan alkitab setelah Ibrahim AS
    hanya diberikan pada keturunannya, dan tidak seorangpun yang menyatakan
    adanya nubuwwah dari bangsa jin yang kemudian terputus dengan kenabiannya
     Ibrahim AS.

3.
Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh
    memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. (QS. 25:20).

4. Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan
    wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. (QS. 12:109).
    Dan sudah diketahuai bersama bahwa jin dalam hal ini selalu mengikuti terhadap
    manusia, Allah berfirman : “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin
    kepadamu yang mendengarkan Al Qur'an, maka tatkala mereka menghadiri
    pembacaan (nya) lalu mereka berkata:"Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)".
    Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi
    peringatan.

0 komentar:

RAHASIA PUASA Dalam Kitab Al Ibadah Fil Islam



     Sebagai muslim yang sejati, kedatangan dan kehadiran Ramadhan yang mulia merupakan sesuatu yang amat membahagiakan kita. Betapa tidak, dengan menunaikan ibadah Ramadhan, amat banyak keuntungan yang akan kita peroleh, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak. Disinilah letak pentingnya bagi kita untuk membuka tabir rahasia puasa sebagai salah satu bagian terpenting dari ibadah Ramadhan.

Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al Ibadah Fil Islam mengungkapkan ada lima rahasia puasa yang bisa kita buka untuk selanjutnya bisa kita rasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan.

     1.  Menguatkan Jiwa.
Dalam hidup, tak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya, lalu
manusia itu menuruti apapun yang menjadi keinginannya meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu serta merugikan orang lain.
Karenanya, di dalam Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi. Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan terjadi karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan kepada Allah SWT sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan. Allah memerintahkan kita memperhatikan
masalah ini dalam firman-Nya yang artinya:

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.” (QS 45:23).Dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang
membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala do’anya dikabulkan oleh Allah Swt, Rasulullah Saw bersabda yang artinya:
"Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak do’a mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan do’a orang yang dizalimi" (HR. Tirmidzi).

          2.  Mendidik Kemauan
Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala.
Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik, meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar. Karena itu, Rasulullah SAW menyatakan: Puasa itu setengah dari kesabaran. Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.

          3.  Badan
Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar juga akan memberikan 
pengaruh positif berupa kesehatan jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah SAW, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak perlu meragukannya lagi. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.

          4.  Mengenal Nilai Kenikmatan
Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia, tapi banyak pula manusia yang tidak pandai mensyukurinya. Dapat satu tidak terasa nikmat karena menginginkan dua, dapat dua tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga dan begitulah seterusnya. Padahal kalau manusia mau memperhatikan dan merenungi, apa yang diperolehnya sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak orang yang memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang kita peroleh. Maka dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga disuruh merasakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita. Hal ini karena baru beberapa jam saja kita
tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita alami, dan pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air. Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan arti kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah memang sedikit dan kecil.
Rasa syukur memang akan membuat nikmat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya, Allah berfirman yang artinya : "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu
memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih"
(QS 14:7).


           5.  Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain
Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan yang hingga kini masih belum teratasi. Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan demikian setahap demi setahap kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yang menderita. Bahkan zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang
yang miskin dan menderita, tapi juga bagi kita yang mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya. Allah berfirman yang artinya : “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu 
itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
(QS 9:103).

0 komentar:

Siapakah Pemilik Sapi Betina Dalam Surat Al Baqarah?

PEMILIK "SAPI BETINA" DALAM SURAT
AL-BAQOROH



Teman-teman tentu tak asing dengan cerita tentang kaumnya Nabi Musa saat terjadi pembunuhan dan tak diketahui siapa pembunuhnya, lantas Alloh memerintahakan untuk mencari sapi yang istimewa untuk menghidupkan korban pembunuhan. Cerita tersebut terangkum dalam Al Qur`an Surat Baqoroh (66-73) berikut cuplikan cerita tersebut:

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menyembelih seekor sapi betina (lalu pukulkanlah bagian dari sapi itu ke tubuh jenazah yang tidak diketahui pembunuhnya itu sehingga ia bangun dari kematiannya dan memberitahukan siapa pembunuhnya yang sebenarnya)”.

Mereka berkata, “Apakah engkau memperolokkan kami?”

Ia menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk golongan orang-orang yang bodoh”

“Mereka berkata, “Mohonlah kepada Tuhanmu agar Ia menerangkan kepada kami sapi betina apakah itu!”

Musa menjawab, “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa ia adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan di antara itu. Maka kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepada kalian”

Mereka berkata, “Mohonlah kepada Tuhanmu agar Ia menerangkan kepada kami apa warnanya”.

Musa menjawab, “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa (warna) sapi betina itu adalah kuning tua (yang merata) nan menyenangkan orang-orang yang memandangnya”

Mereka berkata, “Mohonlah kepada Tuhanmu agar Ia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan jika Allah menghendaki (dengan keterangan yang telah kau berikan) kami akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)”.

Musa berkata, “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa ia adalah sapi betina yang belum pernah digunakan untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat (dan) tidak ada belangnya”.

Mereka berkata, “Sekarang barulah engkau menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya”


Setelah mendengar ciri-ciri sapi tersebut, Bani Israel mencari sapi yang memiliki ciri-ciri ini, usaha apapun yang mereka lakukan tetap tidak membuahkan hasil hingga pada akhirnya mereka mendapatkannya di rumah seorang pemuda.


Catatan dibawah ini akan lebih fokus menjelaskan siapa sebenarnya pemilik SAPI ISTIMEWA tersebut ??


Imam Al-Baghawi menceritakan didalam kitab Tafsirnya, di kalangan Bani Israil ada seorang lelaki yang saleh, Ia punya seroang anak kecil dan seekor anak lembu. Menjelang hari kematiannya, lelaki itu melepaskan anak lembu tersebut di suatu hutan seraya berdoa. “Wahai Tuhanku, aku menitipkan anak lembu ini untuk anakku sampai ia besar”.

Doa lelaki ini dikabulkan oleh Allah SWT. Setelah ia meninggal dunia, anak lembu itu tidak pernah keluar hutan dan selalu menyembunyikan diri agar tidak terlihat orang lain.

Setelah anak itu dewasa, ia membaktikan diri pada ibunya. Ia berkerja mencari kayu bayar untuk kemudian dijual di pasar. Hasil jerih-payahnya itu dibagi tiga, satu bagian untuk sedekah, satu bagian untuk makan, dan yang terakhir untuk ibunya. Ia pun membagi waktu malamnya menjadi tiga, sepertiga malan untuk beribadah, sepertiga lagi untuk tidur, dan sepertiga lagi untuk menunggui ibunya.

Suatu hari ibunya mengatakan, “Sesungguhnya ayahmu meninggalkan anak lembu untukmu yang dilepaskan di suatu hutan. Carilah lembu itu sambil berdoa kepada Tuhannya Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishaq, dan Nabi Ya’qub supaya Dia mengembalikan anak lembu itu kepadamu.

Pergilah anak muda itu ke hutan, dan menemukan lembu yang dimaksud. Lalu ia berkata, “Demi Tuhan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishaq, dan Nabi Ya’qub, tenanglah engkau di situ”.

Lembu itu menghampiri anak muda tersebut dan berkata, “Hai anak muda yang bakti pada ibunya,” tegur lembu tersebut. “Naikilah aku supaya ringan bagimu”.
Anak berkata, “Sesungguhnya ibuku tidak memerintahkan aku menaikimu, tetapi membawamu pulang”.

“Demi tuhannya Bani Israil,” sumpah lembu tersebut, “Jika engkau menaikiku (berarti tidak mematuhi perintah ibunya), sesungguhnya engkau tidak akan dapat menguasaiku selamanya. Maka berjalanlah engkau, karena sesungguhnya andaikan engkau memerintahkan sebuah gunung berjalan sendiri untuk engkau naiki, niscaya gunung itu akan menurut semata-mata baktimu kepada ibumu.

Sesampai di rumah, ibunya berkata, “Anakku engkau adalah orang fakir. Tidak punya harta, berpaya-payah mencari kayu bakar. Untuk itu juallah lembu ini”. Ibunya menyuruh anak itu menjual lembu itu ke pasar dengan harga tiga dinar.
Maka pergilah anak itu ke pasar. Lalu Allah mengutus seorang malaikat untuk memperlihatkan kekuasan-Nya dan memberitahukan bakti anak muda itu terhadap ibunya kepada makhluknya.

“Berapa dinar engkau jual lembu ini”, tanya malaikat itu. “Tiga dinar, dan aku mengadakan perjanjian kepadamu dengan keridhaan ibuku, “Jawab anak
muda itu.

“Ambillah enam dinar ini, dan usahlah engkau meminta persetujuan ibumu”, bujuk malaikat itu.

“Bahkan andai engkau memberiku emas seberat lembu ini, takkan kuterima kecuali dengan keridhaan/Ijin ibuku”.
Anak muda itu pulang kerumah, dan menyampaikan bahwa lembu mereka ditawar enam dinar.

“Kembalilah engkau ke pasar, dan juallah lembu itu dengan enam dinar atas keridhaanku,” perintah ibunya.
Anak muda itu pun kembali ke pasar.

“Sudahkah engkau minta persetujuan ibumu?” Tanya malaikat yang tadi.

“Ibuku memerintahkan aku agar menjual lembu ini tidak kuran dari enam dinar”, kata si pemuda.

“Aku akan memberimu 12 dinar, tak usahlah kamu meminta persetujuan ibumu,” bujuk malaikat itu lagi.

Pemuda itu kembali lagi kepada ibunya dan memberitahukan mengenai tawaran ini.

Sang ibu berkata,
“Sesungguhnya orang yang datang kepadamu itu adalah malaikat. Ia menjelma dalam bentuk manusia untuk mengujimu. Untuk itu jika ia kembali kepadamu, tanyakanlah: apakah engkau mengizinkan aku menjual lembu ini atau tidak?”
Pemuda itu melaksanakan segala perintah ibunya.

Akhirnya malaikat tersebut mengatakan,
“Pulanglah engkau dan katakanlah pada ibumu agar merawat lembu ini baik-baik.
Kelak Musa bin ‘Imran akan membeli lembu darimu, karena ada seseorang yang amti terbunuh dari kaum Bani Israil. Untuk itu jangan engkau jual, kecuali dengan uang dinar seberat lembumu itu”.

Pemuda itu pulang dan merawat lembunya baik-baik. Tak lama kemudian Allah SWT mentakdirkan Bani Israil supaya menyembelih seekor lembu. Lalu mereka berkali-kali meminta supaya Nabi Musa a.s. menerangkan sifat-sifat lembu yang akan disembelihnya. Sehingga akhirnya lembu anak muda itulah yang memenuhi syarat. Dan itu semua terjadi semata-mata karena amal bakti anak muda itu kepada ibunya.
Lembu yagn dimaksudkan sebagai perantara untuk mencari siapa pelaku pembunuhan di kalangan kaum Bani Israil. Kisah ini diterangkan dalam Al Quran surah Al-Baqarah ayat 67-73).

القصة من الإسرائيليات، كما يظهر، ولا يقبل في تفسير كتاب االله إلا ما جاء برواية ثابتة. وقال ابن كثير رحمه االله بعد أن قص )(1
قصة البقرة: وهذه السياقات عن عبيدة وأبي العالية والسدي وغيرهم فيها اختلاف والظاهر أا مأخوذة من كتب بني إسرائيل، وهي مما
:
يجوز نقلها، ولكن لا تصدق ولا تكذب. فلهذا لا يعتمد عليها إلا ما وافق الحق عندنا، واالله أعلم". تفسير ابن كثير 197197 / 1وانظر
.
الإسرائيليات في التفسير والحديث للدكتور محمد حسين الذهبي

(Tafsir Baghowy Juz 1 Hal 108-)

0 komentar: